Pokok-Pokok Landasan Dakwah yang Dicap Sebagai Wahabi
Pokok landasan dakwah yang utama sekali beliau tegakkan adalah
pemurnian ajaran tauhid dari berbagai campuran syirik dan bid’ah, terutama
dalam mengkultuskan para wali, dan kuburan mereka, hal ini akan nampak jelas
bagi orang yang membaca kitab-kitab beliau, begitu pula surat-surat beliau
(lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kita Majmu’ Muallafaat
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, jilid 3).
Dalam sebuah surat beliau kepada penduduk Qashim, beliau
paparkan aqidah beliau dengan jelas dan gamblang, ringkasannya sebagaimana
berikut:
“Saya bersaksi kepada Allah dan kepada para malaikat yang hadir
di sampingku serta kepada anda semua:
·
Saya bersaksi bahwa saya berkeyakinan sesuai dengan keyakinan
golongan yang selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dari beriman kepada Allah
dan kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, kepada hari
berbangkit setelah mati, kepada takdir baik dan buruk.
·
Termasuk dalam beriman kepada Allah adalah beriman dengan
sifat-sifat-Nya yang terdapat dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya tanpa
tahriif (mengubah pengertiannya) dan tidak pula ta’tiil (mengingkarinya). Saya
berkeyakinan bahwa tiada satupun yang menyerupai-Nya. Dan Allah itu Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong
bahwa beliau orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk (Musabbihah atau Mujassimah))
·
Saya berkeyakinan bahwa al-Qur’an itu adalah kalamullah yang
diturunkan, ia bukan makhluk, datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
·
Saya beriman bahwa Allah itu berbuat terhadap segala apa yang
dikehendaki-Nya, tidak satupun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya, tiada
satupun yang keluar dari kehendak-Nya.
·
Saya beriman dengan segala perkara yang diberitakan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang apa yang akan terjadi setelah mati, saya
beriman dengan azab dan nikmat kubur, tentang akan dipertemukannya kembali
antara ruh dan jasad, kemudian manusia dibangkit menghadap Sang Pencipta
sekalian alam, dalam keadaan tanpa sandal dan pakaian, serta dalam keadaan
tidak bekhitan, matahari sangat dekat dengan mereka, lalu amalan manusia akan
ditimbang, serta catatan amalan mereka akan diberikan kepada masing-masing
mereka, sebagian mengambilnya dengan tangan kanan dan sebagian yang lain dengan
tangan kiri.
·
Saya beriman dengan telaga Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam.
·
Saya beriman dengan shirat (jembatan) yang terbentang di atas
neraka Jahanam, manusia melewatinya sesuai dengan amalan mereka masing-masing.
·
Saya beriman dengan syafa’at Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwa Dia adalah orang pertama sekali memberi syafa’at,
orang yang mengingkari syafa’at adalah termasuk pelaku bid’ah dan sesat. (Dari
ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari
syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)
·
Saya beriman dengan surga dan neraka, dan keduanya telah ada
sekarang, serta keduanya tidak akan sirna.
·
Saya beriman bahwa orang mukmin akan melihat Allah dalam surga
kelak.
·
Saya beriman bahwa Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah penutup segala nabi dan rasul, tidak sah iman
seseorang sampai ia beriman dengan kenabiannya dan kerasulannya. (Dari ungkapan
beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengaku sebagai
nabi atau tidak memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
bahkan beliau mengarang sebuah kitab tentang sejarah Nabishallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan judul Mukhtashar sirah Ar Rasul, bukankah
ini suatu bukti tentang kecintaan beliau kepada Rasulshallallahu ‘alaihi wa
sallam.)
·
Saya mencintai para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam, begitu pula para keluarga beliau, saya memuji mereka, dan mendoakan
semoga Allah meridhai mereka, saya menutup mulut dari membicarakan kejelekan
dan perselisihan yang terjadi antara mereka.
·
Saya mengakui karamah para wali Allah, tetapi apa yang menjadi
hak Allah tidak boleh diberikan kepada mereka, tidak boleh meminta kepada
mereka sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah. (Dari ungkapan
beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari karamah
atau tidak menghormati para wali)
·
Saya tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan muslim yang
melakukan dosa, dan tidak pula menguarkan mereka dari lingkaran Islam. (dari
ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau mengkafirkan kaum
muslimin, atau berfaham khawarij, baca juga Manhaj syeikh Muhammad bin
Abdul Wahab fi masalah at takfiir, karangan Ahmad Ar Rudhaiman)
·
Saya berpandangan tentang wajibnya taat kepada para pemimpin
kaum muslimin, baik yang berlaku adil maupun yang berbuat zalim, selama mereka
tidak menyuruh kepada perbuatan maksiat. (dari ungkapan beliau ini terbantah
tuduhan bohong bahwa beliau orang yang menganut faham khawarij (teroris))
·
Saya berpandangan tentang wajibnya menjauhi para pelaku bid’ah,
sampai ia bertaubat kepada Allah, saya menilai mereka secara lahir, adapun
amalan hati mereka saya serahkan kepada Allah.
·
Saya berkeyakinan bahwa iman itu terdiri dari perkataan dengan
lidah, perbuatan dengan anggota tubuh dan pengakuan dengan hati, ia bertambah
dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Bukti Kebohongan Tuduhan Wahabi Tehadap Dakwah Ahlussunnah Wal
Jama’ah
Dengan membandingkan antara tuduhan-tuduhan sebelumnya dengan
aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang kita sebutkan di atas, tentu
dengan sendirinya kita akan mengetahui kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut.
Tuduhan-tuduhan bohong tersebut disebar luaskan oleh musuh
dakwah Ahluss sunnah ke berbagai negeri Islam, sampai pada masa sekarang ini,
masih banyak orang tertipu dengan kebohongan tersebut. sekalipun telah terbukti
kebohongannya, bahkan seluruh karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
membantah tuduhan tersebut.
Kita ambil contoh kecil saja dalam kitab beliau “Ushul
Tsalatsah” kitab yang kecil sekali, tapi penuh dengan mutiara ilmu,
beliau mulai dengan menyebutkan perkataan Imam Syafi’i, kemudian di
pertengahannya beliau sebutkan perkataan Ibnu Katsir yang bermazhab syafi’i
jika beliau tidak mencintai para imam mazhab yang empat atau hanya berpegang
dengan mazhab Hambali saja, mana mungkin beliau akan menyebutkan perkataan
mereka tersebut.
Bahkan beliau dalam salah satu surat beliau kepada salah seorang
kepala suku di daerah Syam berkata:
“Saya katakan kepada
orang yang menentangku, sesungguhnya yang wajib atas manusia adalah mengikuti
apa yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka
bacalah buku-buku yang terdapat pada kalian, jangan kalian ambil dari ucapanku
sedikitpun, tetapi apabila kalian telah mengetahui perkataan Rasulshallallahu
‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam kitab kalian tersebut maka
ikutilah, sekalipun kebanyakan manusia menentangnya.” (lihat kumpulan
surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafaat Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab, jilid 3)
Dalam ungkapan beliau di atas jelas sekali bahwa beliau tidak
mengajak manusia kepada pendapat beliau, tetapi mengajak untuk mengikuti ajaran
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para ulama dari berbagai negeri Islam pun membantah
tuduhan-tuduhan bohong tersebut setelah mereka melihat secara nyata dakwah yang
beliau tegakkan, seperti dari daerah Yaman Imam Asy Syaukani dan Imam As
Shan’any, dari India Syekh Mas’ud An-Nadawy, dari Irak Syaikh Muahmmad Syukri
Al Alusy.
Syaikh Muhammad Syukri Al Alusy berkata setelah beliau
menyebutkan berbagai tuduhan bohong yang disebar oleh musuh-musuh terhadap
dakwah tauhid dan pengikutnya:
“Seluruh tuduhan tersebut adalah kebohongan, fitnah dan dusta
semata dari musuh-musuh mereka, dari golongan pelaku bid’ah dan kesesatan,
bahkan kenyataannya seluruh perkataan dan perbuatan serta buku-buku mereka
menyanggah tuduhan itu semua.” (al Alusy, Tarikh Nejd, hal: 40)
Begitu pula Syaikh Mas’ud An-Nadawy dari India berkata:
“Sesungguhnya kebohongan yang amat nyata yang dituduhkan terhadap
dakwah Syaikh Muhammad bin Abdu Wahhab adalah
penamaannya dengan wahabi, tetapi orang-orang yang rakus berusaha mempolitisir
nama tersebut sebagai agama di luar Islam, lalu Inggris dan turki serta Mesir
bersatu untuk menjadikannya sebagai lambang yang menakutkan, yang mana setiap
muncul kebangkitan Islam di berbagai negeri, lalu orang-orang Eropa melihat
akan membahayakan mereka, mereka lalu menghubungkannya dengan wahabi, sekalipun
keduanya saling bertentangan.” (Muhammad bin Abdul Wahab
Mushlih Mazhluum, hal: 165)
Begitu pula Raja Abdul Aziz dalam sebuah pidato yang beliau
sampaikan di kota Makkah di hadapan jamaah haji tgl 11 Mei 1929 M dengan judul
“Inilah Aqidah Kami”: “Mereka menamakan kami sebagai orang-orang wahabi, mereka
menamakan mazhab kami wahabi, dengan anggapan sebagai mazhab khusus, ini adalah
kesalahan yang amat keji, muncul dari isu-isu bohong yang disebarkan oleh
orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu, dan kami bukanlah pengikut mazhab
dan aqidah baru, Muhammad bin Abdul Wahab tidak membawa sesuatu yang baru,
aqidah kami adalah aqidah salafus sholeh, yaitu yang terdapat dalam kitab Allah
dan Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang menjadi pegangan salafus sholeh. Kami
memuliakan imam-imam yang empat, kami tidak membeda-bedakan antara imam-imam;
Malik, Syafi’i , Ahmad dan Abu Hanifah, seluruh mereka adalah orang-orang yang
dihormati dalam pandangan kami, sekalipun kami dalam masalah fikih berpegang
dengan mazhab hambaly.” (al Wajiz fi Sirah Malik Abdul Aziz, hal: 216)
Dari sini terbukti lagi kebohongan dan propaganda yang dibuat
oleh musuh Islam dan musuh dakwah Ahlussunnah bahwa teroris diciptakan oleh
wahabi. Karena seluruh buku-buku aqidah yang menjadi pegangan di kampus-kampus
tidak pernah luput dari membongkar kesesatan teroris (Khawarij dan Mu’tazilah).
Begitu pula tuduhan bahwa Mereka tidak menghormati para wali Allah atau
dianggap membikin mazhab yang kelima. Pada kenyataannya semua buku-buku yang dipelajari
dalam seluruh jenjang pendidikan adalah buku-buku para wali Allah dari berbagai
mazhab. Pembicara sebutkan di sini buku-buku yang menjadi panduan di
Universitas Islam Madinah.
·
Untuk mata kuliah Aqidah: kitab “Syarah Aqidah Thawiyah” karangan
Ibnu Abdil ‘iz Al Hanafi, “Fathul Majiid” karangan Abdurahman
bin Hasan Al hambaly. Ditambah sebagai penunjang, “Al Ibaanah“ karangan
Imam Abu Hasan Al Asy’ari, “Al Hujjah” karangan Al Ashfahany
Asy Syafi’i,“Asy Syari’ah” karangan Al Ajurry, Kitab “At
Tauhid” karangan Ibnu Khuzaimah, Kitab “At Tauhid” karangan
Ibnu Mandah, dll.
·
Untuk mata kuliyah Tafsir: Tafsir Ibnu Katsir Asy
Syafi’i, Tafsir Asy Syaukany. Ditambah sebagai penunjang: Tafsir
At Thobary, Tafsir Al Qurtuby Al Maliky, Tafsir Al
Baghawy As Syafi’i, dan lainnya.
·
Untuk mata kuliyah Hadits: Kutub As Sittah beserta
Syarahnya seperti: “Fathul Bary” karangan Ibnu Hajar Asy
Syafi’i, “Syarah Shahih Muslim”karangan Imam An Nawawy Asy Syafi”i,
dll.
·
Untuk mata kuliyah fikih: “Bidayatul Mujtahid” karangan
Ibnu Rusy Al maliky, “Subulus Salam” karangan Ash Shan’any.
Ditambah sebagai penunjang: “al Majmu'” karangan Imam An
Nawawy Asy Syafi”i, kitab “Al Mughny” karangan Ibnu Qudamah Al
Hambali, dll. Kalau ingin untuk melihat lebih dekat lagi tentang kitab-kitab
yang menjadi panduan mahasiswa di Arab Saudi silakan berkunjung ke perpustakaan
Universitas Islam Madinah atau perpustakaan mesjid Nabawi, di sana akan
terbukti segala kebohongan dan propaganda yang dibikin oleh musuh Islam dan kelompok
yang berseberangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tuduhan teroris
dan wahabi.
Selanjutnya kami mengajak para hadirin semua apabila mendengar
tuduhan jelek tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atau membaca
buku yang menyebarkan tuduhan jelek tersebut, maka sebaiknya ia meneliti
langsung dari buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau buku-buku ulama
yang seaqidah dengannya, supaya ia mengetahui tentang kebohongan
tuduhan-tuduhan tersebut, sebagaimana perintah Allah kepada kita:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bila seorang fasik datang
kepadamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kamu tidak mencela suatu
kaum dengan kebodohan, sehingga kamu menjadi menyesal terhadap apa yang kamu
lakukan.”
Karena buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bisa
didapatkan dengan sangat mudah terlebih-lebih pada musim haji dibagikan secara
gratis, di situ akan terbukti bahwa beliau tidak mengajak kepada mazhab baru
atau kepercayaan baru yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah,
namun semata-mata ia mengajak untuk beramal sesuai dengan kitab Allah dan
sunnah Rasul-Nya, sesuai dengan mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meneladani
Rasulullah dan para sahabatnya serta generasi terkemuka umat ini, serta
menjauhi segala bentuk bid’ah dan khurafat.
Ringkasan Dan Penutup
Ringkasan:
·
Seorang da’i hendaklah membekali dirinya dengan ilmu yang cukup
sebelum terjun ke medan dakwah.
·
Seorang da’i hendaklah memulai dakwah dari tauhid, bukan kepada
politik, selama umat tidak beraqidah benar selama itu pula politik tidak akan
stabil.
·
Seorang da’i hendaklah sabar dalam menghadapi berbagai rintangan
dan tantang dalam menegakkan dakwah.
·
Seorang da’i yang ikhlas dalam dakwahnya harus yakin dengan
pertolongan Allah, bahwa Allah pasti akan menolong orang yang menolong
agama-Nya.
·
Tuduhan wahabi adalah tuduhan yang datang dari musuh dakwah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan tujuan untuk menghalangi orang dari mengikuti
dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
·
Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah sebagai pembawa aliran baru
atau ajaran baru, tetapi seorang yang berpegang teguh dengan aqidah Ahlus
Sunnah wal Jama’ah.
·
Perlunya ketelitian dalam membaca atau mendengar sebuah isu atau
tuduhan jelek terhadap seseorang atau suatu kelompok, terutama merujuk
pemikiran seseorang tersebut melalui tulisan atau karangannya sendiri untuk
pembuktian berbagai tuduhan dan isu yang tersebar tersebut.
·
Penutup
Sebagai penutup kami mohon maaf atas segala kekurangan dan
kekeliruan dalam penyampaian materi ini, semua itu adalah karena keterbatasan
ilmu yang kami miliki, semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi kami
sendiri dan bagi hadirin semua, semoga Allah memperlihatkan kepada kita yang
benar itu adalah benar, kemudian menuntun kita untuk mengikuti kebenaran itu,
dan memperlihatkan kepada kita yang salah itu adalah salah, dan menjauhkan kita
dari mengikuti yang salah itu.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك.
*) Penulis adalah Rektor Sekolah Tinggi Dirasat
Islamiyah Imam Syafii, Jember, Jawa Timur
***
Disampaikan dalam tabligh Akbar 21 Juli 2005 di kota Jeddah,
Saudi Arabia
Oleh: Ustadz DR. Ali Musri SP *
Artikel www.muslim.or.id

Komentar
Posting Komentar